Sabtu, 11 Juli 2009

KHALIL GIBRAN



CINTA
Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus.

Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.

CINTA
Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.

CINTA
Cinta tidak menyedari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.

CINTA
Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia kerana cinta itu membangkitkan semangat- hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.

CINTA
Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang

ATAS NAMA CINTA
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

CINTA YANG BERLALU
Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.

CINTA LELAKI
Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan.

TAKDIR CINTA
Aku mencintaimu kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat engkau.

Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita.

CINTA PERTAMA
Setiap orang muda pasti teringat cinta pertamanya dan mencuba menangkap kembali hari-hari asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlung hatinya dan membuatnya begitu bahagia di sebalik, kepahitan yang penuh misteri.

LAFAZ CINTA
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

LAFAZ CINTA
Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, kerana kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan.

KALIMAH CINTA
Apa yang telah kucintai laksana seorang anak yang tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya

CINTA DAN AIRMATA
Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah sentiasa.

WANITA
Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.
CINTA
Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus.

Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.

CINTA
Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.

CINTA
Cinta tidak menyedari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.

CINTA
Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia kerana cinta itu membangkitkan semangat- hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.

CINTA
Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang

ATAS NAMA CINTA
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

CINTA YANG BERLALU
Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.

CINTA LELAKI
Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan.

TAKDIR CINTA
Aku mencintaimu kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat engkau.

Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita.

CINTA PERTAMA
Setiap orang muda pasti teringat cinta pertamanya dan mencuba menangkap kembali hari-hari asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlung hatinya dan membuatnya begitu bahagia di sebalik, kepahitan yang penuh misteri.

LAFAZ CINTA
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

LAFAZ CINTA
Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, kerana kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan.

KALIMAH CINTA
Apa yang telah kucintai laksana seorang anak yang tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya

CINTA DAN AIRMATA
Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah sentiasa.

WANITA
Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.
Lanjut membaca “KHALIL GIBRAN”  »»

Jumat, 10 Juli 2009

Dolanan/Kawih Anak Sunda baheula


Diantara anda sekalian pasti masih ingat kawihan dibawah ini, dalam rangka mengenang masa kecil diperkampungan dulu saya copy paste kawih anak jaman baheula dari beberapa sumber.

TOKECANG


Tokecang-tokecang
Balagendil tosblong
Angeun kacang-angeun kacang
Sapendil kosong


TRANG-TRANG KOLENTRANG



Trang-trang kolentrang
Si Londok paeh nundutan
Mesat gobang kabuyutan
Tikusruk kana durukan

PUNTEN



Punten mangga
Ari ga, gatot kaca
Ari ca, cau ambon
Ari bon, bonteng asak
Ari sak, sakit perut
Ari rut, rujak asem
Ari sem, sempal-sempil
Ari pil, pilem rame
Ari me, meja makan
Ari kan, kantong kosong
Ari song, songsong lampu
Ari pu, puak-paok
Ari wok, wok candewok


CINGCANGKELING


Cingcangkeling
Manuk cingkleng cindeten
Plos ka kolong
Bapa satar beleneng


BULANTOK


Bulantok-bulantok
Bulan gede bulan montok
Moncorong sagede batok

Biasanya dinyanyikan oleh anak anak disaat bulan purnama datang


AYANG-AYANGGUNG


Ayang-ayang gung
Gung goongna rame
Menak ki Wastanu
Nu jadi wadana
Naha maneh kitu
Tukang olo-olo
Loba anu giruk
Ruket jeung kompeni
Niat jadi pangkat
Katon kagorengan
Ngantos Kangjeng Dalem
Lempa lempi lempong
Ngadu pipi jeung nu ompong
Jalan ka Batawi ngemplong

Menurut beberapa sumber ayang-ayanggung adalah bentuk protes terhadap kondisi sosial masayarakat "cacah kuricah" terhadap perilaku menak sunda yang feodalistik.


JALEULEU


Jaleuleu ja
Tulak tujaeman gog
Seureuh leuweung bay
Jambe kolot bug
Ucing katinggang songsong
Ngek!
Lanjut membaca “Dolanan/Kawih Anak Sunda baheula”  »»

Kamis, 09 Juli 2009

PUISI JALALUDDIN RUMI I



MATI SEBELUM ENGKAU MATI

Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…

~ Jalaluddin Rumi ~

KEMBALI KEPADA TUHAN

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.Begitulah caranya!Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”

~ Jalaluddin Rumi ~

Lanjut membaca “PUISI JALALUDDIN RUMI I”  »»

Surat Keur Ki_lanceuk *alm Boni*



Kullu Nafsin Dzalikatull Maut *bisi salah ejaan hampura*
salaku jalma sok poho rarasaan hirup teh bakal salilana, rarasaan teh bakal panggih salilana. Padahal teu saeutik anu ngingetan.
Hal ieu kaalaman lain sakali tapi asa asana mah jiga jelema ngambeu hitut. lamun kaambeung bau kakarak ribut. dimana geus leungit mah sok repeh.
sabulan anu katukang *jigana leuwih saeutik* urang ditelepon ku almarhum harita loba anu diobrol keun, diantarana dipenta tulung. ngan hanjakal urg teu bisa nedunan kabutuhna kulantaran keur sibuk kampanye jeung anggapan teh teu pati peunting teuing*da teu nyarita*. Panyana teh eta teh, lain obrolan pamungkas, hanjeulu ngagendok dina dada dibejaan geus tilar dunya. Kasuka karia, pedah pamajikan salamet ngalahirkeun ngadak2 leungit. rus ras asa dosa. Naha teu ngomong harita teh anjeun teh geuring???? lamun diimpleung deui katukang harita keur jaman sakola, terus jaman ulin babareungan asa beuki nyeuri hate pinuh ku katunggaraan. Duh gusti mugiya dihampura, bon hampura urang teu nyaho. jalan anu dipilampah teh teu salilana leumpeung jeung ajeug, jelema mah sok keuna ku owah gingsir, sok poho kana purwadaksi. Ayeuna mah nu karasa kari kaduhung sagede gunung. di dua'keun cikng salamet di akherat cing dicaangkeun dialam kubur. Hampura, tambelar ka anjeun. Mudah2an engke panggih deui di Yaummul Akhir. Kasadaya sobat sim kuring umajak, mugiya ridhlo pikeun ngadua'keun sobat urang sadayana.
Lanjut membaca “Surat Keur Ki_lanceuk *alm Boni*”  »»

AMANAT GALUNGGUNG *Saduran*



Naskah atau koropak 632 ini sekarang disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta.


Naskah memuat pula tentang tata politik pada jaman dahulu. Sedangkan pusat-pusat kegiatan intelektual dan keagamaan ditempatkan pada kedudukan yang sangat penting. Dari naskah ini diketahui juga peran Kabuyutan (liat fungsi Kabuyutan pada thread lainnya), bukan hanya sebagai tempat pemujaan, melainkan dijadikan sebagai salah satu cara penopang integritas terhadap negara, sehingga tempat itu dilindungi oleh raja dan disakralkan.


Amanat Galunggung bukan suatu judul naskah yang langsung ditulis demikian, namun disebutkan bagi sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy Garut. Penamaan terhadap kumpulan naskah menjadi ‘Amanat Galunggung’ diberikan oleh Saleh Danasasmita, yang turut mengkaji naskah ini pada tahun 1987.


Naskah yang dikatagorikan sebagai salah satu naskah tertua di Nusantara ini diperkirakan disusun pada abad ke-15, ditulis pada daun lontar dan nipah, menggunakan bahasa Sunda kuno dan aksara Sunda, berisi nasehat perihal budi pekerti, disampaikan Rakyan Darmasiksa, Raja kerajaan Sunda ke-25, Penguasa Galunggung, kepada puteranya, yakni Ragasuci atau Sang Lumahing Taman. Sehingga didalam nalaroza weblog menyebut pula sebagai ‘Amanat Galunggung Prabu Guru Darmasiksa’.


Siapakah Prabugru Darmasiksa

Didalam naskah Carita Parahyangan diceritakan, Darmasiksa, atau ada juga yang menyebut Prabu Sanghyang Wisnu memerintah selama 150 tahun. Sedangkan di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 – 1219 Saka atau 1175 – 1297 M. konon kabar sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawathan yang sejaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya (1135 – 1159) M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).


Menurut Pustaka Nusantara II/2, Prabuguru Darmasiksa pernah memberikan peupeujeuh – nasehat kepada cucunya, yakni Wijaya, pendiri Majapahit, sebagai berikut :


Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlaha yan ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wu agheng jaya santosa wruh ngawang kottman ri puyut kalisayan mwang jayacatrumu, ngke pinaka mahaprabhu. Ika hana ta daksina sakeng hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.


Ikang sayogyanya rajyaa Jawa rajya Sunda parasparopasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawartti rajya sowangsong. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duhkantara. Wilwatika sakopayanya maweh caranya : mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.


Inti dari nasehatnya tersebut menjelaskan tentang larangan untuk tidak menyerang Sunda karena mereka bersaudara. Jika masing-masing memerintah sesuai dengan haknya maka akan mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang sempurna.


Jika diurut bibit buit Rakyan Darmasiksa maka ditemukan muasal leluhurnya dari Kendan. Jika kita menyoal masalah Kendan tentunya tidak dapat dilepaskan dari Galuh, sehingga tak heran jika banyak masyarakat kita yang menafsirkan Amanat Galunggung ini terkait erat dengan nilai-nilai yang berlaku umum di Galuh pada waktu itu.


Sama halnya dengan alur Carita Parahyangan yang mengisahkan Galuh, dibuat pada abad ke 16, satu abad pasca Amanat Galunggung, naskah yang diberi nama Amanat Galunggung ini memulai ceritanya dari alur Kerajaan Saunggalah I (Kuningan) yang diperkirakan telah ada pada awal abad 8M.


Masa tersebut tentunya terkait dengan kisah perebutan tahta Galuh oleh sesama keturunan Wretikandayun, yakni antara anak-anak mandi minyak disatu pihak dan anak dari Sempak Waja dan Jantaka. Sehingga secara politis, Sanggalah merupakan alternatif untuk menyelesaikan pembagian kekuasaan diantara keturunan Wretikandayun, bahkan naskah ini menjelaskan sisi dan perkembangan keturunan Wretikandayun diluar Galuh.


Didalam naskah Wangsakerta Bab Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa, diketahui nama Raja Saunggalah I bernama Resiguru Demunawan. Kedudukan sebagai penguasa di wilayah tersebut diberikan oleh ayahnya, yakni Sempak Waja, putra dari Wretikandayun (pendiri Galuh). Resiguru Demunawan merupakan kakak kandung dari kakak kandung Purbasora, yang pernah menjadi raja di Galuh pada 716-732M. Eksistensi dari Resi Demunawan, Sempak Waja dan Wretikandayun banyak di ceritakan didalam Carita Parahyangan, bahkan seangkatan dengan Sanjaya dan Balangantrang.


Memang Demunawan, leluhur Prabuguru Darmasiksa memiliki keistimewaan dari saudara-saudara lainnya, baik sekandung maupun dari seluruh teureuh Kendan. Karena sekalipun tidak pernah menguasai Galuh secara fisik, namun ia mampu memperoleh gelar Resi Guru. Suatu Gelar yang tidak sembarangan bisa didapat oleh siapapun, sekalipun oleh raja-raja terkenal, tanpa memilik sifat Satria Minandita, bahkan pasca Salakanagara dan Tarumanagara, gelar ini hanya diperoleh Resiguru Manikmaya, pendiri Kendan, Resiguru Darmasiksa dan Resiguru Niskala Wastu Kancana, Raja di Kawali.


Prabuguru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I (Kuningan) kemudian memindahkan ke Saunggalah 2, di daerah Tasik. Menurut kisah Bujangga Manik pad abadi ke 15, lokasi lahan tersebut terletak di daerah Tasik selatan sebelah barat, bahkan kerajaan ini mampu mempertahankan kehadirannya setelah Pajajaran dan Galuh runtuh. Pada abad ke 18 nama kerajaan tersebut masih ada, namun setingkat Kabupaten, dengan nama Kabupaten Galunggung, berpusat di Singaparna. Mungkin sebab alasan sejarah penduduk Kampung Naga Salawu Tasik enggan menyebut Singaparna, merekapun tetap menyebut Galungung untuk istilah Singaparna.


Kemudian Darmasiksa diangkat menjadi Raja di Kerajaan Sunda (Pakuan), sedangkan Saunggalah diserahkan kepada puteranya, yakni Ragasuci atau Sang Lumahing Taman.


Naskah Amanat Galunggung

Saripati dari naskah tersebut pada intinya berisi tentang tetekon hirup, yakni :

1. Keharusan untuk menjaga dan mempertahankan tanah kabuyutan dari gangguan orang asing, bahkan tanah kabuyutan sangat di sakralkan. Iapun mentebutkan, bahwa : lebih berharga kulit lasum (musang) yang berada ditempat sampah dari pada putra raja yang tidak mampu mempertahankan tanah airnya.

2. Memotifasi agar keturunannya untuk tetap mempertahan Galunggung. Dengan cara mendudukan Galunggung maka siapapun akan memperoleh kesaktian, jaya dalam berperang, dan akan mewariskan kekayaan sampai turun temurun.

3. Agar berbakti kepada para pendahulu yang telah mampu mempertahan tanah air pada jamannya masing-masing.


Amanat Galunggung intinya merupakan ajaran atau visi yang harus dimilik setiap ‘Urang Sunda’, terutama dalam cara hirup kumbuhna. Sehingga dapat membentuk diri sebagai pribadi yang positif dan mencerminkan kesejatian manusia.


Berikut dibawah ini Ringkasan ‘Amanat Galunggung’, yang disarikan dari nalaroza.wodpress.com Dalam tulisan ini sengaja hanya ditampilkan terjemaahan dari koropak 632 oleh Saleh Danasamita (1987), naum tidak pada analisanya ataupun pendapatnya. Hal ini semata-mata agar diketahui keaslian dan universalitasnya ajaran Sunda Buhun.


Halaman 1 :

Prabu Darmasiksa menjelaskan tentang nama-nama raja leluhurnya. Iapun memberikan amanat atau nasihat kepada: anak, cucu, umpi (turunan ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas ( ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya.


Halaman 2 :

Pegangan Hidup :

Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.


Tentang perilaku negatif yang dilarang : Jangan merasa diri yang paling benar, jaling jujur, paling lurus, Jangan menikah dengan saudara, Jangan membunuh, yang tidak berdosa, Jangan merampas hak orang lain. Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah. Jangan saling mencurigai.


Halaman 3 :

Pegangan Hidup

· Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan).

· Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temurun.

· Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.

· Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing.

· Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya.

· Perilaku yang dilarang, yakni jangan memarahi orang yang tidak bersalah ;
Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya.



Halaman 4

Pegangan Hidup

· Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri.

· Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”.

· Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk alang-alang yang memenuhi tegal.


Halaman 5

Pegangan Hidup

· Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya.

· Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung.

· Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.

· Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.

· Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.

· Semua yang dinasihatkan ini adalah amanat dari Rakeyan Darmasiksa.


Halaman 6

Pegangan Hidup


Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna.


Bila ajaran Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi :

· Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya;

· Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan.

· Ahli strategi akan unggul perangnya.

· Pertanian akan subur.

· Panjang umur.

· SANG RAMA (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup ; SANG RESI (cerdik pandai, berilmu), bertanggung jawab atas kesejahteraan ; SANG PRABU (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan.


Perilaku yang dilarang, yakni : Jangan berebut kedudukan ; Jangan berebut penghasilan ; Jangan berebut hadiah.


Perilaku yang dianjurkan, yakni harus bersama- sama mengerjakan kemuliaan, melalui : perbuatan, ucapan dan itikad yang bijaksana.


Halaman 7

Pegangan Hidup


Akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan ajaran/agama ; akan menjadi orang terhormat bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahmi dengan sesama manusia. Itulah manusia yang mulia.


Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan. Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya. Kita menjadi kaya karena kita bekerja, berhasil tapanya. Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/tapa kita.


Perilaku yang dianjurkan : Perbuatan, ucapan dan tekad harus bijaksana.


Harus bersifat hakiki, bersungguh-sungguh, memikat hati, suka mengalah, murah senyum, berseri hati dan mantap bicara.


Perilaku yang dilarang : Jangan berkata berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan jangan berbicara mengada-ada.


Halaman 8.

Pegangan Hidup :

· Bila orang lain menyebut kerja kita jelek (maksudnya bukan jelek fisik/tubuh), yang harus disesali adalah diri kita sendiri.

· Tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.

· Tidak benar pula bila kita berkeja hanya karena ingin dipuji orang.

· Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu.

· Camkan ujaran para orang tua agar masuk surga di kahiyangan.

· Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri.

· Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik.


Perilaku yang dianjurkan :

Harus cekatan, terampil, tulus hati, rajin dan tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, perwira - berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan dan berani tampil. Yang dikatakan semua ini itulah yang disebut orang yang BERHASIL TAPANYA, BENAR-BENAR KAYA, KESEMPURNAAN AMAL YANG MULIA.


Halaman 9

Pegangan Hidup :

Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal ; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain.


Perilaku yang dilarang :

Arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pander - bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung - babarian, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian - pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalau berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hat, rumit mengesalkan, aib dan nista


Halaman 10

Pegangan Hidup :

· Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.

· Orang pemalas seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri melihat keutamaan orang lain.

· Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.
Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu.
Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.

· Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.


Halaman 11

Pegangan Hidup

· Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.

· Sayangilah orang tua, oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih isteri, memilih hamba agar hati orang tua tidak tersakiti.

· Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang agama hukum para leluhur, agar hirup tidak tersesat.

· Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.

· Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.

· Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya.

· Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.
Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.


Halaman 12

Pegangan Hidup:

· Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia- sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.

· Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.

· Ketidak-pastian dan kesemerawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia.

· Bila tidak mempunyai rumah/kekayaan yang banyak ya jangan beristri banyak.

· Bila tidak mampu berproses menjadi orang suci, ya jangan bertapa.


HALAMAN 13
Pegangan Hidup:

· Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.

· Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepa cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan.

· Teguh semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita.

Perilaku yang dianjurkan:

· Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju.

· Senang akan keelokan/keindahan.

· Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.

· Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk.

· Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.


Cag heula. Pamuga aya nungoreksi sangkan panggih jeung bebeneranana.


Disarikan oleh : Agus Setiya Pernana

Antara lain dari :

1. nalaroza.wor press.com

2. wikipedia.indonesia.ensiklopedia bebas

3. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat (1983)
dari: BLOG KI BALANGANTRANG
Lanjut membaca “AMANAT GALUNGGUNG *Saduran*”  »»

*Saduran Lengkap* CARITA PARAHYANGAN


Enya kieu Carita Parahiyangan teh.

Sang Resi Guru boga anak Rajaputra.

Rajaputra boga anak Sang Kandiawan jeung Sang Kandiawati, duaan adi lanceuk.

Sang Kandiawan teh nyebut dirina Rahiyangta Dewaradja.


Basa ngajalankeun kahirupan sacara rajaresi, ngalandi dirina Rahiangta di Medangjati, oge katelah Sang Lajuwatang, nya mantenna nu nyieun Sanghiang Watangageung.


Sanggeusna rarabi, nya lahir anak-anakna limaan, mangrupa titisan Sang Kusika, Sang Garga, Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Puntandjala, nya eta: Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba jeung Sang Wretikandayun.


II


Aya manuk ngaranna si Uwur-uwur, oge katelah Si Naragati, njajang di pangjarahan Bagawat resi Makandria. Anakna dihakan ku jaluna. Dicarekan ku bikangna.


Carek bikangna: "Kacida hinana, lamun urang teu boga anak teh. Bireungeuh tuh Bagawat Resi Makandria!Tatapa soteh bane bae sangsara da henteu boga anak."


Carek Bagawat Resi Makandria: "Kumaha rek boga anak. Da kawin oge henteu."


Ti dinya, carek Bagawat Resi Makandria: "Aing dek indit ka Sang Resi Guru, ka Kendan."


Manehna datang ka Kendan.


Carek Sang resi Guru: "Na nahaon bejana, hidep Bagawat Resi Makandria, nu matak datang ka dieu?" "Pangampura bae; saleresna aya piwartoseun. Dek nyuhunkeun pirabieun. Lantaran kawartosan ku manuk si Uwur-uwur, nu nelah oge si Nagaragati. Sanggemna kacida hinana, lamun urang teu gaduh anak."


Carek Sang resi Guru: "Jig hidep ti heula ka patapan deui. Anaking Pwah Rababu geuwat susul Bagawat Resi Makndria. Lantaran nya manehna pijodoeun hidep teh, anaking."


Pwah Rababu terus nyusul, dating ka patapan Sang Resi Makandria, teu diaku rabi.


Kabireungeuheun aya widadari geulis, ngarupakeun Pwah Mandjangandara, nya geuwat Rasi Makandria ngajadikeun dirina Kebowulan. Terus sanggama.


Carek Sang Resi Guru: "Enten, anaking Pwah Sanghiang Sri! Jig hidep indit ngajadi ka lanceuk hidep, ka Pwah Aksari Jabung."


Ti dinya Pwah Sanghiang Sri indit sarta terus nitis, nya lahir Pwah Bungatak Mangalengale.

III


Carek sang Mangukuhan: "Nam adi-adi sadaya urang moro ka tegalan."


Sadatang ka tegalan, kasampak Pwah Manjangandara reujeung Rakean Kebowulan. Diudag ku limaan, sarta beunangna pada jangji, yen saha anu pangheulana keuna numbakna, nya manehna piratueun.


Keuna ditumbak ku Sang Wretikandayun, Kebowulan jeung Pwah Manjangandara teh. Kebowulan lumpat ka patapan, sadatangna hos bae paeh.


Ku Sang Wretikandayun dituturkeun, kasampak pwah Bungatak Mangalengale keur nyusu ka Pwah Manjangandara.


Pwah Bungatak Mangalengale teh ku Sang Wretikandayun di bawa mulang ka Galuh, ka Rahiangta di Medangjati.

IV


Rahiyangan di Medangjati lawasna ngadeg ratu limawelas taun. Diganti ku Sang Wretikandayun di Galuh, bari migarwa Pwah ngatak Mangalengale.


Ari Sang Mangukuhan jadi tukang ngahuma, Sang Karungkalah jadi tukang moro, Sang Katungmaralah jadi tukang nyadap sarta Sang Sandanggreba jadi padagang.


Nya ku Sang Wreti Kandayun Sang Mangukuhan dijungjung jadi Rahiangtung Kulikuli, Sang Karungkalah jadi Rahiangtang Surawulan, Sang Katungmaralah jadi Rahiyangtang Pelesawi, Sang Sandanggreba jadi Rahiangtang Rawunglangit.


Sabada Sang Wretikendayun ngadeg ratu di Galuh, nya terus ngajalankeun kahirupan sacara rajaresi sarta ngalandi dirina jadi Rahiangta di Menir. Dina waktu bumen-bumen, harita teh nya nyusun Purbatisti.


Lawasna jadi ratu salapanpuluh taun. Diganti ku Rahiang Kulikuli, lawasna jadi ratu dalapanpuluh taun. Diganti ku Rahiangtang Surawulan, lawasna jadi ratu genep taun, katujuhna diturunkeun, lantaran goring lampah. Diganti ku Rahiangtang Pelesawi, lawasna jadi ratu saratusdualikur taun, lantaran hade lampah. Diganti ku Rahiangtang Rawunglangit, lawasna geneppuluh taun.

V


Diganti ku Rahiangtang Mandiminyak.


Anak Rahiangta di Menir teh aya tiluan, nu cikal nya Rahiang Sempakwaja, ngadeg Batara Dangiang Guru di Galunggung; Rahiangtang Kidul, ngadeg Batara Hiang Buyut di Denuk; Rahiangtang Mandiminyak ngadeg ratu di Galuh.


Carek Sang Resi Guru: "Karunya aing ku Rahiang Sempakwaja henteu boga pamajikan. Anaking Pwah Rababu! Hidep leumpang ungsi Rahiang Sempakwaja, lantaran aya manehna pibatureun hidep tatapa."


Sang Resi Guru ngagesek totopong jadi jaralang bodas, nya indit nyampeurkeun Rahiang Sempakwaja, nu harita kabeneran keur ngawelit.


Carek Sanghiang Sempakwaja: "Na naha nya aya jaralang bodas etah?"


Cop nyokot sumpit, terus diudag rek disumpit. Pwah Rababu kapanggih eukeur mandi di talaga Candana.


Carek Rahiang Sempakwaja: "Ti ma etah nu mandi?" Sampingna dileled ku sumpit, beunang. Aya baturna para Pwah Aksari, tuluy lalumpatan ka tegalan.


Pwah Rababu dibawa ku Rahiang Sempakwaja, dipirabi. Kacida dipikaasihna. Nya lahir anakna lalaki duaan, nya eta Rahiang Purbasora jeung Rahiang Demunawan.

VI


Barang ngadenge tatabeuhan ngaguruh teu puguh rungukeuneunana, tatabeuhan di Galuh, Pwah Rababu terus mulang ka Galuh di dinya teh taya kendatna nu ngigel.


Sadatangna kaburuan ageung, cek Rahiangtang Mandiminyak: "Patih, na naon eta ateh?"


"Bejana nu ngigel di buruan ageung!"


"Eta bawa pakean awewe sapangadeg, sina marek ka dieu. Keun tanggungan aing. Geuwat bawa sacara paksa!"


Patih indit ka buruan ageung. Pwah Rababu dibawa ka kadaton. Dipirabi ku Rahiangtang Mandiminyak. Kacida bogohna ka Pwah Rababu. Tina sapatemonna, nya lahir anak lalaki dingaranan Sang Sena.


VII


Carek Rahiang Sempakwaja: "Rababu jig indit. Ku sia bikeun eta budak ka Rahiangtang Mandiminyak, hasil jinah sia, Sang Salahlampah."


Rababu tuluy leumpang ka Galuh.


"Aing dititah ku Rahiang Sempakwaja mikeun budak ieu, beunang sia ngagadabah aing tea."


Carek Rahiangtang Mandiminyak: "Anak aing maneh teh, Sang Salah?"


Carek Rahiangtang Mandiminyak deui: "Patih ku sia budak teh teundeun kana jambangan. Geus kitu bawa kategalan!"


Dibawa ku patih ka tegalan, Samungkurna patih, ti eta tegalan kaluar kila-kila nepi ka awang-awang. Kabireungeuh ku Rahiangtang Mandiminyak.


"Patih teang deui teundeun sia nu aya budakna tea!"


Ku patih diteang ka tegalan, kasampak hirup keneh. Terus dibawa ka hareupeun Rahiangtang Mandiminyak. Dingaranan Sang Sena.

VIII


Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora. Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun.


Carek Rahiangtang Kidul: "Putu, aing sangeuk kacicingan ku sia, bisi sia kanyahoan ku ti Galuh. Jig ungsi Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan, sarta anak saha sia teh?"


Carek Rakian Jambri: "Aing anak Sang Sena. Direbut kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora."


"Lamun kitu aing wajib nulungan. Ngan ulah henteu digugu jangji aing. Muga-muga ulah meunang, lamun sia ngalawan perang ka aing. Jeung deui leuwih hade sia indit ka tebeh Kulon, jugjug Tohaan di Sunda."


Sadatangna ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda. Ti dinya ditilar deui da ngajugjug ka Rabuyut Sawal.


Carek Rabuyut sawal: "Sia teh saha?"


"Aing anak Sang Sena. Aing nanyakeun pustaka bogana Rabuyut Sawal. Eusina teh, 'retuning bala sarewu', anu ngandung hikmah pikeun jadi ratu sakti, pangwaris Sang Resi Guru."


Eta pustaka teh terus dibikeun ku Rabuyut sawal. Sanggeus kitu Rakean jambri miang ka Galuh.


Rahiang Purbasora diperangan nepi ka tiwasna. Rahiang Purbasora jadina ratu ngan tujuh taun. Diganti ku Rakean Jambri, jujuluk Rahiang Sanjaya.

IX


Carek Rahiang Sanjaya: "Patih, indit sia, tanyakeun ka Batara Dangiang Guru, saha kituh anu pantes pikeun nyekel pamarentahan di urang ayeuna."


Sadatangna patih ka Galunggung, carek Batara Dangiang Guru: "Na aya pibejaeun naon, patih?"


"Pangampura, kami teh diutus ku Rahiang Sanjaya, menta nu bakal marentah, adi Rahiang purbasora."


Hanteu dibikeun ku Batara dangiang Guru.


Carek Batara Dangiang Guru: "Rahiang Sanjaya, indit beunangkeun ku sorangan. Elehkeun Guruhaji Pagerwesi, elehkeun Wulan, Sang Tumanggal, elehkeun Guruhaji Tepus jeung elehkeun Guruhaji Balitar. Jig indit Rahiyang Sanjaya; elehkeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan. Maranehna meunang kasaktian, nu ngalantarankeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan henteu kabawah ku dangiang Guru. Lamun kaelehkeun bener maneh sakti."


Rahiang Sanjaya tuluy perang ka Kuningan. Eleh Rahiang Sanjaya diubeuber, nepi ka walungan Kuningan. Rahiang Sanjaya undur.


"Teu meunang hanteu aing kudu ngungsi ka dieu, lantaran diudag-udag, kami kasoran."


Ti dinya Rahiang Sanjaya mulang deui ka Galuh, Sang Wulan, Sang Tumanggal mulang deui ka Arile.


Rahiang Sanjaya tuluy marek ka Batara Dangiang Guru, Carek Batara Dangiang Guru: "Rahiang Sanjaya, naon pibejaeun sia, mana sia datang ka dieu?"


"Nya eta aya pibejaeun, apan kami dipiwarang, tapi kami eleh. Ti mana kami unggulna, anggur kami diuber-uber ku Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan." Sanggeus kitu Rahiang Sanjaya tuluy mulang ka Galuh.

X


Carek Sang Wulan, Sang Tumanggal, sang Pandawa di Kuningan: "Mawa pisajieun, urang miang ka Galunggung, pakean lalaki sapangadeg, pangcalikan, munding sarakit (?), beas sacukupna pikeun dahar."


Sadatang ka Galunggung, eureun di Pakembangan. Kasampak ku (Sang) Pakembangan. tuluy popojan ka Batara Dangiang Guru.


Carek Batara Dangiang Guru: "Aya beja naon?"


"Pun Batara Dangiang Guru! Aya Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan."


"Kacida bagjana sia datang ka dieu. Jung miang ka Galuh. Ondang Rahiang Sanjaya, caritakeun, kudu mawa pisajieun, pakean lalaki sapangadeg, pangdiukan wulung, munding sarakit (?), kawali beusi jeung beas sacukupna pikeun dahar."


Sadatang sia ka Galuh, carek Rahiyang Sanjaya: "Aya pibejaeun naon, sia Pakembangan?"


"Kami teh dititah ku Dangiang Guru. Rahiang Sanjaya supaya mawa pisajieun salengkepna. Aya Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan."


Rahiang Sanjaya indit.


Barang nepi ka hareupeun Dangiang Guru, carek Dangiang Guru: "Rahiang Sanjaya! Lamun kaereh ku sia Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan, aing bakal nurut kana sagala ucapan sia. Da beunang ku aing kabawah. Turut kana ucapan aing. Da aing wenang ngelehkeun, hanteu kasoran. Da aing anak dewata."

Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan kabawah ku Batara Dangiang Guru.

Sang Wulan dijenengkeun Guruhaji di Kajaron.

Sang Tumanggal dijieun Guruhaji Kalanggara di Balamoha.

Sang Pandawa di Kuningan jadi Guruhaji Lajuwatang.

Sang Puki jadi Guruhaji di Pagerwesi.

Sang Manisri dijadikeun Buyuthaden Rahesa di Puntang.

Buyuthaden Tujungputih di Kahuripan.

Buyuthaden Sumajajah di Pagajahan.

Buyuthaden Pasugihan di Batur.

Buyuthaden Darongdong di Balaraja.

Buyuthaden Pagergunung di Muntur.

Buyuthaden Muladarma di Parahiangan.

Buyuthaden Batuhiang di Kuningan.

XI


Rahiyang Sanjaya tumetep di Medang Ratu di Galuh, Sang Seuwakarma.


Ari adina Ratu Galuh, miara sabaraha hiji anak munding, nyieun padumukan pikeun muja. Pindah-pindah tempat, sewabakti ka Batara Upati.


(Nelah) Rahiang Wereh, nu matak disebut kitu, waktu ditilar, adi lanceuk masih laleutik keneh.


Teu tulus jadi ratu, lantaran (huntuna) rohang, mangkana katelah Rahiang Sempakwaja. Rahiyang Kidul oge hanteu bisa jadi ratu sabab burut, nya jadi Wikuraja.


Sang Seuweukarma jadi Tohaan di Kuningan, lahirna di patapan, enya eta anak Rahiang Sempakwaja.


Cek Rahiang Sanjaya: "Atuh masih pernah dulur aing, aki! Lamun kitu mah karah. Ulah weleh mere bantuan ka aing, aki patih!"


Cek patih: "Muga-muga bae bisa deui urang ngamalkeun Sanghiang Darmasiksa. Ulah teu digugu!"


Omongan para patih ka Rahiang Sanjaya: "Lamun haying unggul perang, geura mangkat ti Galuh!" Prang ka Mananggul, eleh sang ratu Mananggul, Pu Anala pamanggul juritna. Tuluy ka Kahuripan, diperangan, eleh Kahuripan, Rahiangtang Wulukapeu taluk. Tuluy ka Kadul, diperangan eleh Rahiang Supena, taluk. Tuluy ka Balitar, diperangan, eleh sang ratu Bima.


Ti dinya Rahiang Sanjaya nyabrang ka wilayah Malayu. Kemir diperangan, eleh Rahiangtang Gana. Perang deui ka Keling, eleh Sang Sriwijaya. Perang ka Barus, eleh ratu Jayadana. Perang ka Cina, eleh pati(h) Sarikaladarma.


Mulang Rahiang Sanjaya ka Galuh ti sabrang.

Tunda.

XII


Rahiangtang Kuku, Sang Seuweukarma di Arile, ngayakeun gempungan jeung para patih; raja dicaritakeun hal pangajaran kaparamartaan.


"Nam urang rek marek, mawa kiriman ka Rahiang Sanjaya. Cokot emas sakati, lima boehna, bawaeun urang ka Rahiang Sanjaya."


Dina danget eta, oge di Galuh ngayakeun kumpulan jeung para patih sakabeh.

"Nam urang nyieun labur di jalan gede pakeun ngabageakeun Sang Seuweukarma, lantaran enya eta Rahiang Kuku."


"Barang datang ka sisimpangan ka Galuh jeung ka Galunggung, dipapag, dihormat disayagian cai pikeun sibanyo."


Carek Rahiangtang Kuku: "Sang patih, bawa kami marek ka rahiang Sanjaya. Tah emas sakati, lima boehna."


Carek sang patih: "Pun Tohaan! Boh emas boh beusi henteu diajenan ku Rahiang Sanjaya. Nu diajenan teh ngan huripna jalma rea."


Rahiangtang Kuku jadi kabingungan. Terus mulang deui ka Arile. Carek Rahiangtang Kuku: "Na naon pakeun urang bakti ka Rahiang Sanjaya?"

XIII


Sakitu mulyana, ieu tangtu Rahiang Sempakwaja. Ayeuna urang caritakeun Rahiangtang Kuku, indit ka Arile, ngababakan di Kuningan.


Kasohor Rahiangtang Kuku, enya eta Sang Seuweukarma, ngadeg di Kuningan, anakna Rahiang Sempakwaja. Indung bapana teh tempat panyaluuhan jalma rea.


Dayeuh, desa, pulo jeung sakurilingna: ti Keling bakti ka Rahiangtang Kuku; Rahiangtang Luda di puntang; Rahiangtang Wulukapeu di Kahuripan; Rahiangtang Supremana di Wiru; Rahiang Isora di Jawa sang ratu Bima di Bali (tar); di Kulon di Tu(n)tang Sunda nyabrang ka wilayah Malayu. Rahiangtang Gana ratu di Kemir; Sang Sriwijaya di Malayu, Sang Wisnujaya di Barus, Sang Bramasidi di Keling. Patihna Sang Kandarma di Berawan; Sang Mawuluasu di Camara Upatah; Sang Pa(n)cadana ratu di Cina.


Kabeh kabawah ku Rahiangtang Kuku. Kabeh ngaku ratu ka nu calik di Saunggalah. Kabawah ku Sang Seuweukarma, sabab Ngukuhan ajaran Dangiang Kuning.


Di Galuh Rahiang Sanjaya nanyakeun: "Kumaha sang patih, pilukeun urang? Urang hanetu dianggap kulawarga ku Rahiangtang Kuku. Sang patih! Jig indit sidikkeun ku sorangan ka Kuningan. Bisa jadi urang dipajarkeun turut campur kana karia, padahal urang henteu dibejaan, daek indit."


Sang patih nepi ka Kuningan, marek ka kadaton, terus ngabakti ka Rahiangtang Kuku.


Carek Rahiangtang Kuku: "Oh sang patih!Na naon bejana, mana dating ka dieu?"


Carek sang patih: "Kami dititah ku Rahiang Sanjaya. Diparentah nyidikkeun ka dieu. Saha nu dijungjung, nu dijenengkeun ratu?"

Carek Rahiang Kuku: "Eh sang patih! Pantesna nya aing dijungjung dijenengkeun ratu ku balarea. Ngan ti Rahiang Sanjaya mah henteu diharepkeun, lantaran kulawarga, jeung moal ka kami mah, sabab dianggapna resep maehan kulakadang baraya. Malah aing ditempatkeun ka Kuningan oge ku Rahiang Sempakwaja. Aing beunang Rahiang Sempakwaja nempatkeun ka Kuningan ieu teh.


Mana aing teyu diganggu ku Rahiang Sanjaya."


Sang patih mulang ka Galuh.


Ditanya ku Rahiang Sanjaya: "Aki, kumaha carek Rahiangtang Kukuka urang?" "Pun, Rahiang Sanjaya! Rahiangtang Kuku teh tapana kataekan. Ngagem Sanghiang Darma kalawan Sanghiang Siksa. Tumut kana wisik Sang Rumuhun, jadi lulugu dina Hirup kumbuh. Kukituna ku urang turut tanpa rasa gigis. Tembongkeun ku urang, da urang jeung Tohaan teh saturunan, kabeh ge pada-pada turunan dewata."


Geuwat dicokot pustaka ku Rahiang Sanjaya. Barang nepi terus diungkab eta pustaka teh. Unina kieu: "Ong awignam astu, kretajugi balam raja kretayem rawanem sang tata dosamem, sewa ca kali cab pratesora sang aparanya retuning dewata, sang adata adining ratu dewata sang sapta ratu na caturyuga. Sang Resi Guru tipekur di nu suni ngayuga Sang Kandiawan jeung Sang Kandiawati. Nya puputra Rahiangtang Kulikuli, Rahiangtang Surawulan, Rahiangtang Pelesawi, Rahiangtang Rawunglangit, bungsuna Sang wretikandayun.

Sang Wretikandayun boga anak Rahiang Sempakwaja, Rahiang Kidul, Rahiangtang Mandiminyak. Rahiangtang Mandiminyak boga anak Sang Sena, sang Sena boga anak Rahiang Sanjaya."


Awewe geulis, Dobana mawa parahu, panjangna tujuh deupa, dibagian hareupna dimomotan rupa-rupa pakarang.


"Urang ka nusa Demba!" Nya terus maranehanana balayar.

Kareungeu ku Sang Siwiragati. Dek ngamuatkeun Pwah Sangkari Pucanghaji Tunjunghaji, ditumpakkeun dina gajah putih. Kakara ge leumpang sapanjang buruan.


Teu disangka-sangka Rahiangtang Kuku, Sang Seuweukarma cunduk ka nusa Demba, tuluy ka kadaton, diuk tukangeun Sang Siwiragati.


Rahiangtang Kuku diudag ku gajah putih, lumpat ka buruan mawa Pwah Sangkari.


Henteu aya balik deui ka kadaton gajah putih teh, ngawula ka Rahiangtang Kuku.


Rahiangtang Kuku mulang deui ka Arile, dibawa dina gajah putih jeung Pwah Sangkari. Pwah sangkari teh ngomong: "Naha henteu aya emas saguri, sapotong sapaha jeung salengkepna papakean?"

Tuluy bae ka Galuh, ka Rahiang Sanjaya, henteu nyimpang ka Arile. Dibawa na gajah putih ditutup ku lungsir putih tujuh kayu diwatangan mas mirah komara inten.


Barang dating ti nusa Demba, tuluy ka kadaton, sanggeus cunduk, Rahiangtang Kuku nyarita ka Rahiang Sanjaya, naha resep mireungeuh gajah putih.


Tanyana: "Mana?"


Tuluy gajah putih teh ditumpakan, Pwah Sangkari disanghareupkeun ka Rahiyang Sanjaya. Sanggeus nepi ka padaleman, henteu balik deui.

Carek Rahiang Sanjaya: "Na naon nu jadi karempan teh? Ayeuna aing hayang runtut raut. Aing jeung bapa, Rahiang Kuku, Sang Seuweukarma. Ayeuna aing moal ngalawan. Ayeuna urang tetepkeun: tanah bagaian Dangiang Guru di tengah, bagian Rangiang Isora ti Wetan; jauhna nepi ka kalereun Paraga jeung Cilotiran, ti Kulon Tarum, ka Kulon bagian Tohaan di Sunda."


Sanggeus Rahiangtang Kuku mulang ka Arile, sadatangna ka Arile, putus hancana di dunya, hilang dina umur nu kacida kolotna.


Rahiang Sanjaya sasauran, ngawulang anakna, Rakean Panaraban, enya eta Rahiang Tamperan: "Ulah arek nurutan agama aing, lantaran eta aing dipikasieun ku jalma rea."


Lilana jadi ratu salapan taun, diganti ku Rahiang Tamperan.

XV


Mimiti Sang Resi Guru ngawangun kuta pulo Jawa, kutana teh nyaeta Galunggung, ti wetana Jawa.


Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipateni tanpa dosa, ngaranna Bagawal Sajalajala.


Atma pandita teh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga.


Sang manarah males pati.

Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, ku Sang Manarah. Dipanjara beusi Rahiang Tamperan teh.


Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu kana panjara beusi tea. Kanyahoan ku Sang Manarah, tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah.

Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa, mangrupa persembahan.


Nurutkeun carita Jawa, Rahiang Tamperan lilana ngadeg raja tujuh taun, lantaran polahna resep ngarusak nu tapa, mana teu lana nyekel kakawasaanana oge.


Sang Manarah, lilana jadi ratu dalapanpuluh taun, lantaran tabeatna hade.


Sang Manisri lilana jadi ratu geneppuluh taun, lantaran pengkuh ngagem Sanghiang Siksa.


Sang Tariwulan lawasna jadi ratu tujuh taun.


Sang Welengan lawasna jadi ratu tujuh taun.

XVI


Enya kieu, mimiti Sang Resi Guru boga anak Sang Haliwungan, nya eta Sang Susuktunggal nu ngomean pakwan reujeung Sanghiang Haluwesi, nu nyaeuran Sanghiang Rancamaya.


Tina Sanghiang Rancamaya aya nu kaluar.


"Ngaran kula Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Surugana, ratu hiang banaspati."


Sang Susuktunggal, enya eta nu nyieun pangcalikan Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja, ratu pakwan Pajajaran. Nu kagungan kadaton Sri bima-untarayana madura-suradipati, nya eta pakwan Sanghiang Sri Ratudewata.


Titinggal Sang Susuktunggal, anu diwariskeunana tanah suci, tanah hade, minangka bukti raja utama.


Lilana ngadeg ratu saratus taun.

XVII


Rahiang Banga lawasna ngadeg ratu tujuh taun, lantaran polahna hanteu didasarkeun kana adat kabiasaan anu bener.


Rakean di Medang lilana ngadeg ratu tujuh taun.


Rakeanta Diwus lilana jadi ratu opatlikur taun.


Rakeanta Wuwus lilana jadi ratu tujuhpuluh dua taun.


Nu hilang di Hujung Cariang lilana jadi ratu taun, kaopatna teu cucud, lantaran salah lampah, daek ngala awewe ku awewe.


Rakean Gendang lilana jadi ratu tilulikur taun.


Dewa Sanghiang lilana jadi ratu tujuh taun.


Prebu Sanghiang lilana jadi ratu sawelas taun.


Prebu Datia Maharaja lilana jadi ratu tujuh taun.


Nu hilang di winduraja lilana jadi ratu tilulikur taun.


Nu hilang di Kreta lawasna jadi ratu salapanpuluhdua taun, lantaran ngukuhan kana lampah anu hade, ngadatangkeun gemah ripah.


Diganti deui ku nu hilang di Winduraja, henteu lila ngadegna ratu ngan dalapanwelas taun.


Diganti ku Sang Rakean Darmasiksa, titisan Sanghiang Wisnu, nya eta nu ngawangun sanghiang binajapanti.


Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahiangan.


"Tina naon berkahna?" Ti sang wiku nu mibanda Sunda pituin, mituhu Sanghiang Darma, ngamalkeun Sanghiang Siksa.

Boga anak nu hilang di Taman, lawasna jadi ratu genep taun.

Boga anak deui nu hilang di Tanjung, lilana jadi ratu dalapan taun.


Boga anak nu hilang di Kikis, lilana jadi ratu dualikur taun.

Nu hilang di Kiding, lilana jadi

ratu tujuh taun.

Boga anak Aki Kolot, lilana jadi ratu sapuluh taun.

XVIII


Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.


Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.


Aya deui putra Prebu, kasohor ngaranna, nya eta Prebu Niskalawastu kancana, nu tilem di Nusalarang gunung Wanakusuma. Lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah.


Sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, Hiang Bunisora, nu hilang di Gegeromas. Batara Guru di Jampang.


Sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai.


Batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta Sanghiang Pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu.


Beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. Nu dituladna oge makuta anggoan Sahiang Indra. Sakitu, sugan aya nu dek nurutan. Enya eta lampah nu hilang ka Nusalarang, daek eleh ku satmata. Mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh.


Mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati 35). Dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu.


Cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat.


Ngukuhan angger-angger raja 36), ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna.


Sang Wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang Watangageung. Ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.


Diganti ku Tohaan Galuh, enya eta nu hilang di Gunung tiga. Lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran salah tindak bogoh ka awewe larangan ti kaluaran.

XIX


Diganti ku Prebu, putra raja pituin, nya eta Sang Ratu Rajadewata, nu hilang di Rancamaya, lilana jadi ratu tilupuluhsalapan taun.


Ku lantaran ngajalankeun pamarentahanana ngukuhan purbatisti purbajati, mana henteu kadatangan boh ku musuh badag, boh ku musuh lemes. Tengtrem ayem Beulah Kaler, Kidul, Kulon jeung Wetan, lantaran rasa aman.


Teu ngarasa aman soteh mun lakirabi dikalangan jalma rea, di lantarankeun ku ngalanggar Sanghiang Siksa.

XX


Diganti enya eta ku Prebu Surawisesa, anu hilang di Padaren, Ratu gagah perkosa, teguh jeung gede wawanen.


Perang limawelas kali henteu eleh. Dina ngajalankeun peperangan teh kakuatan baladna aya sarewu jiwa.


Perang ka Kalapa jeung Aria Burah. Perang ka Tanjung. Perang ka Ancol kiyi. Perang ka Wahanten Girang. Perang ka Simpang. Perang ka Gunungbatu. Perang ka Saungagung. Perang ka Rumbut. Perang ka Gunungbanjar. Perang ka Padang. Perang ka Pagoakan. Perang ka Muntur. Perang ka Hanum. Perang ka Pagerwesi. Perang ka Madangkahiangan.


Ti dinya mulang ka pakwan deui. Hanteu naunan deui. Ratu tilar dunya. Lawasna jadi ratu opatwelas taun.

XXI


Prabu Ratudeawata, enya eta nu hilang kasawah-tampian-dalem.


Ngajalankeun kahirupan saperti rajaresi. Tanpa Pwah Susu.

Disunatan, maksudna supaya bersih, suci tina kokotor ari dikumbah, disunat ku tukangna, pituin Sunda eta teh.


Datang huru-hara, musuh loba teu kanyahoan ti mana asalna. Perang di buruan ageung. Tohaan Sarendet jeung Tohaan Ratu Sanghiang kasambut.


Aya pandita sakti dianiaya, pandita di sumedang. Sang pandita di Ciranjang dipaehan tanpa dosa, katiban ku tapak kikir. Sang pandita di Jayagiri digubruskeun ka sagara. Aya pandita sakti taya dosana. Munding Rahiang ngaranna, digubruskeun ka sagara, henteu paeh, hirup keneh, ngilang tanpa ninggalkeun ragana di dunya. Katelah ngaranna Hiang Kalinganja. Ku lantaran eta masing iatna anu masih tinggal di belakang kali, ulah arek hirup api-api pupuasaan. Tah kitu kaayaan jaman susah teh.


Prebu ratudewata, lilana jadi dalapan taun, kasalapanna tilar dunya.

XXII


Diganti ku Sang Ratusakti Sang Mangabatan di Tasik. Enya eta anu hilang ka Pengpelengan. Lilana jadi ratu dalapan taun, lantaran ratu lampahna cilaka ku awewe.


Larangan ti kaluaran jeung ku indungtere. Mindeng maehan jalma tanpa dosa, ngarampas tanpa rasrasan, hanteu hormat ka kolot, ngahina pandita.


Ulah diturut ku nu pandeuri, lampah ratu kitu mah. Tah kitu riwayat sang ratu teh.

XXIII


Tohaan di Majaya eleh perang, lantaran kitu hanteu cicing di kadaton. Manehna nu nyipta sanghiang Panji, ngendahan kadaton, dibalaj diatur mirupa taman mihapitkeun panto larangan. Nu ngawangun bale bobot tujuhwelas jajar, diukir diparada diwujudkeun rupa-rupa carita.


XXIV


Dina jaman jalma sajagat hanteu ngalaman kajahatan disebutna jaman kreta.


Henteu aya nu ngajadikeun ancurna jagat.


Dina jaman dopara, jaman parunggu, saterusna diganti ka jaman kali, jaman beusi, Sang Nilakendra, dilantarankeun lila teuing dina kasenangan, ngumbar hawa napsu. Bogana anak, kana hatena geus kaancikan ku rekadaya, nya nurunkeun pertapa, incu pateterean.

Inuman keras dianggapna saperti cai wujudna godaan napsu. Jelema nu ngahuma rewog baranghakan, teu gumbira lamun teu pepelakan. Lila ratu ngalajur napsu dina barang dahar, teu nurutkeun adat kabiasaan, enggoning ngumbar kasenangan borak-borak da nganggap saluyu jeung kabeungharanana.


Lilana jadi ratu genepwelas taun.

XXV


Diganti ku Nusia Mulya. Lilana jadi ratu duawelas (!) taun. Mimiti datangna perobahan. Buana lemes nyusup ka nu kasar, timbul karusakan ti Islam.


Perang ka Rajagaluh, eleh Rajagaluh. Perang ka Kalapa eleh Kalapa. Perang ka Pakwan, perang ka Galuh, perang ka Datar. Perang ka Ma(n)diri, perang ka Patege, perang ka Jawakapala, eleh Jawakapala. Perang ka Gegelang. Meuntas perang ka Salajo; kabeh eleh ku urang Islam.


Kitu nu matak kabawah ka Demak jeung ti Cirebon.

Disadur oleh : http://akibalangantrang.blogspot.com
Sumber: TJARITA PARAHIJANGAN - Drs. Atja - Jajasan Kebudajaan
Nusalarang (Bandung, 1968)


Lanjut membaca “*Saduran Lengkap* CARITA PARAHYANGAN”  »»

Rabu, 01 Juli 2009

Saduran *Kitab Sanghyang Siksa Kandang Karesian*


….
Ini pakeun urang ngretakeun bumi lamba : caang jalan panjang tajur, paka pridana, linyih pipir, caang buruan. Anggeus ma imah kaeusi, leuit kaeusi, paranje kaeusi, huma kaomean, sadapan karaksa, palana ta hurip, sowe waras, nyewana sama wong sarat. Sangkilang di lamba, trena taru lata galuma, hejo lembok tumuwuh sarba pala wohwohan, dadi na hujan, landing tahun, tumuwuh daek, ma hurip na ujung reya. Inya eta sanghyang sasana kreta di lamba ngaranna.

Ini sanghyang dasa kreta nu dipajarkeun kalangkang sanghyang dasa sila, ya maya-maya sanghyang dasa marga ta, ka retyaksaan na dasa indriya. Ini byakta : ceuli ulang barang denge mo sieup didenge kenana dora bancana, sangkan urang nemu mala na lunas papa naraka; hengan lamun kapahayu ma sinenggu utama di pangreungeu.


Mata ulah barang deuleu mo ma sieup dideuleu kenana dora bancana, sangkan urang nemu mala na lunas papa naraka; hengan lamun kapahayu ma sinenguh utama ning deuleu.


Kulit ulah dipake gulang-gasehan, ku panas ku tiris, kenana dora bancana, sangkan nemu mala na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti kulit.


Letah ulah salah nu dirasakeun kenana dora bancana, sangkan urang nemu mala na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti letah.

Irung ulah salah ambeu kenana dora bancana, sangkan urang nemu mala na lunas papa naraka; hengan lamun kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti irung.

Sungut ulah barang carek kenana dora bancana na luna papa naraka; hengan lamun kapahayu ma sinengguh utama bijilnya ti leungeun.


Suku ulah barang tincak keuna dora bancana na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti suku.


Payu ulah dipake keter keter kenana dora bancana na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinegguh utama bijilnya ti payu.


Baga purusa ulah di pake kancoleh kenana dora bancana na lunas papa naraka; hengan lamunna kapahayu ma sinengguh utama bijilna ti baga lawan purusa.

Ya ta sinanuh dasa kreta ngaranna. Anggeus kapahayu ma dora sapuluh rampes twahna urang reya. Ma ngun twah sang dewa ratu.


Nihan sinangguh dasa prebakti ngaranna. Anak bakti di bapa, ewe bakti di laki, hulun bakti di pacandaan, sisya bakti di guru, wang tani bakti di wado, wado bakti di mangkubumi, mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang. Ya ta sinangguh dasa prebakti ngaranna.


……

Kitu keh urang janma ini. Lamun dek nyaho di puhun suka lawan enak ma ingetkeun saur sang darma pitutur. Ini silokana :


* Talaga carita hangsa
* Gajendra carita banem
* Matsyanem carita sagerem
* Puspanem carita bangbareng


Kalinganya, kitu ja rang dek ceta, ulah salah geusan nanya. Lamun haying nyaho di taman herang, talaga banyu atis ma, hangsa Tanya.




Saleh Dana Sasmita dkk.
Disadur dari : Wahyu Wibisana, dalam : Lima abad Sastra Sunda – sebuah antologi – Geger Sunten, Juni 2000
Lanjut membaca “Saduran *Kitab Sanghyang Siksa Kandang Karesian*”  »»

UGA WANGSIT SILIWANGI


Uga Wangsit Siliwangi

Carita Panungtung Ngahiangna Pajajaran

Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!

UGA WANGSIT SILIWANGI

Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang: Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.

Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!

Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!

Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!

Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!

Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.

Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.

Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.

Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!

Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.

Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.

Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.

Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan............................. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.

Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!

Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.

Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!

Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!
Lanjut membaca “UGA WANGSIT SILIWANGI”  »»

Saduran *Kitab Bujangga Manik*


Saur sang mahapandita

“Kumaha girita ini ?”

Mana sinarieun teuing

Teka ceudeum ceukreum teuing ?

Mo hanteu nu kabengkengan.”

Saur sang mahapandita :

“Dimana eta geusanna ?

Eundeur nu ceurik sadalem,

Seok nu ceurik sajero,

Midangdam sakadatuan.

Mo lain dipakancailan:

Tohaan eukeur nu mangkat,

Prebu Jaya Pakuan.”

Saurna karah sakini:

“Ambuing, tatanghi tingal,

Tarik-tarik dibuhaya.

Pawekas pajeueung beungeut

Kita, ambu, deung awaking

Hengan sapoe ayeuna.

Aing dek leumpang ka wetan.”

Saanggeus nyaur sakitu

Indit birit Sunda diri

Lugay sika sundah leumpang

Sadiri tilu panti,

Saturun titungtung surung,

Ulang panapak kalemah

Kalangkang ngabiantara

Rejeung deung dayeuhanana

Mukakeun panto kowari.

Saundur aing ti umbul,

Sadiri ti pakanycilan,

Sadatang ka Windu Cinta,

Cunduk aing ka manguntur,

Ngalalar ka panycawara,

Ngahusir ka Lebuh Ageung

Na leumpang saceundung kaen.

Saundur aing ti umbul,

Sadiri ti Pakancylan,

Sadatang ka Windu Cinta,

Ngalalar ka Panycawara,

Ngahusir ka Leubuh Ageng,

Na leumpang saceundeun kaen.

Seok na janma nu nyarek:

“Tohaan na dek ka mana ?

Mana sinarieun teuing!

Teka leumpang sosorangan!”

Ditanya hanteu dek nyaur.

Nepi ka Pakeun Caringin,

Ku ngaing teka kaliwat.

Ngalar ja Nangka Anak,

Dating ka Tajur Nyanghalang,

Nyanglandeuh aing di Engkih,

Meuntasing di Ci-Haliwung.

Sananyjak aing ka Bangis,

Ku ngaing geus kaleumpang,

Nepi ka Talaga Hening,

Ngahusir aing ka Peusing.

Na leumpang megat morentang,

Meuntas aing di Ci-Lingga.

Sanepi ka Putih Birit,

Panyjang tanyjakan ditedak,

Ku ngaing dipeding-peding.

Sadatang aing ka Punycak,

Deuuk dina mungkal datar,

Teher ngahihidan awak.

Teher sia nenyjo gunung;

Itu tan a Bukit Ageng,

Hulu wano na Pakuan.

Sadiri aing ti inya,

Dating ka alas Eronan.

Nepi aing ka Cinangsi,

Meuntas aing di Ci-Tarum.

Ku ngaing geus kaleumpangan,

Meuntas di Ci-Punagara,

Lurah Medang Kahiangan,

Ngalalar ka Tompo Omas,

Meuntas aing di Ci-manuk,

Ngalalar ka Pada Beunghar,

Ngalalar aing ka Conam,

Ka tukang bukit Cremay.

Saucunduk ka Luhur Agung,

Meuntasing di Ci-Sanggarung.

Sadatang ka tuntung Sunda,

Meuntasing di Ci-Pamali,

Datang ka alas Jawa.

Ku ngaing geus kaideran

Lurah-lerih Majapahit,

Palataran alas Demak

Sanepi ka Jati Sari,

Datang aing ka Pamalang.

Diinyana aing teu heubeul.

Katineungna tuang ambu

Lawas teuing ditinggalkeun.

Tosta geura pulang deui.

Mumul nyorang urut aing;

Itu Parahu Malaka.

Turun aing di Pamalang,

Tulunying numpang balayar.

Bijil aing ti Muhara,

Masang wedil tujuh kali,

Ing na goong brang na ngangsa,

Bantar kali buar pelang,

Surung-sarang saur gading,

Manyura di tendas unycal,

Mibabahan awi gombong,

Mitihang awi nyowana.

Kamudi-kamudi Keling;

Apus dangdan hoe muka,

Paselang deung hoe omas

Pabaur hoe walatung;

Tihang layer kayu laka,

Hurung beunangna ngahinggul,

Siang beunang ngajrinang;

Beuteu bogoh ku sakitu,

Bogoh kunu mawa inya;

Nu badayun urang Tanyjung,

Nunimba urang Kalapa,

Nu babose urang Angke,

Bose rampas bose laying,

Deungeun bose susulandung

Balayar satengah bukan

Banyat aing di Kalapa.

Ngaraning Ameng Lalayaran,

Undur aing ti parahu.

Sadatang ka Pabeyan,

Ku ngaing geus kaleumpangan,

Ngalalar ka mandi Rameyan,

Datang ka Ancol Tamiang,

Ngalalar aing ka Samprok.

Saucuncuk ka leuweung langon,

Meuntas aing di Ci-Panas,

Nagalalar ka Sukakandang

Ku ngaing geus kaleumpangan,

Meuntas aing di Ci-Kenycal.

Sacunduk aing di Luwuk,

Meuntas aing di Ci-Luwer.

Sacunduk ka Peuteuy Kuru,

Ngalalar ka Kandang Serang.

Sacunduk aing ka Batur,

Ku ngaing geus kaleumpangan,

Meuntasing di Ci-Haliwung.

Sacunduk ka Pakeun Tubuy,

Ngalalar ka Pakeum Tayeum.

Sacunduk ka pakeun Teuluk,

Sadatang ka Pakanycilan,

Mukakeun panto kowari

Ngahusir ka lamin adding

Lamin ading panycatulis.

Bale ronycang pangrekaan:

Pamikul beunang ngahigul,

Pangheret beunang miseret,

Linycar beunang ngajrinang,

Suhunan beunang marada,

Saler gelar beutung tuha,

Dijeujeutan kawat jawa.

Unggah tohaan ka manggung,

Pangguh lungguh di palangka.

Ambuing kasondong ngeuyeuk

Buat nu ditepas bumi,

Eukeur ngeuyeuk eukeur meubeur,

Eukeur ngulage mihane,

Neuleun nuar nyangkuduan,

Ngaranycet kanteh pamulu

Ngela sepan angen hayam

Nyoreang ka lamin adding,

Ngadeuleu salingeur beuheung

Katuluyan deuleu teuteuh.

Saur ambuing anaking:

“Itu ta eugeun si utun!

Ayeuna cunduk ti timur

Ayeuna datang ti wetan,

Datangna ti Rabut Palah.

Anaking deudeuukanan!

Aing rek nyiar seupaheun.”

Na heuyeuk tuluy di tunda,

Diparac apus dadampar,

Loglog caor tina tonggong,

Diri hapit tina pingping,

Kedalan diri ti dampal,

Neut nanyjeur kajuga hangas

Saasup sia ka bumi,

Nyingkabkeun kasang carita.

Eundeur nu rarawis kasang,

Kumarenycang-kumarenycong,

Ninggang kana papan janten,

Bogoh kuna ngaran kasang:

Kasang tujuh kali nyingkab,

Kasang seni tambi lungsir,

Kasang pahang tambi laka,

Bedong ditambi kacambang.

Saunggah ka manggung ranyjang,

Gapay ka karas larangan,

Dicokot kapiselaman pasibonteng,

Digapay seureuh tangkayan,

Pinang ta cangcian keneh,

Pinang tiwi pinang adding,

Keur meujeuh patemu angen.

Tuluy ngahancang seupaheun,

Dituruban saratangan,

Beunang ngaharemas.

Anggeus ngahancang seupaheun,

Dicokot pameres jati.

Anggeus nu meresan rambut,

Digapay na embalm ageng,

Dieunteupkeun (kana …?)

Tuluy eunyceum kana penteu,

Tuluy sari kana pipi.

Timburu nu kahiasan,

Sajingjing boeh calingcing

Sakandar boeh harega

Saturun ti manggung ranyjang,

Garudah di tengah imah,

Garedog dfibalik panto

Kereket ninycak taraje,

Ulang panapak ka lemah,

Kalangkang ngabiantara,

Reujeung deung dayeuhanana.

Seah nu lemah katinycak,

Eundeur na Ratu Banycana,

Ngeunakeun tuang kalangkang,

Cab ruy tapih meubeut keuneung,

Ngeureut ka na bitis koneng,

Ngahusir ka lamin adding.

Ungganh tohaan ka manggung,

Deuuk teoheun palangka,

Na seupaheun di aseukan.

Saur ambuing sakini:

“Anakin nu mucang onam!”

Saurna ameng Layaran:

Ambu, aing sadu mucang.”

Ingkeun mangka ongko mucang.

Carekeun si Jompong Larang.

Saturun ka Kadatuan,

Ngalalar caroge ageng,

Nyanglandeuh ka panycawara,

Mukakeung panto kowari,

Ngalalar ka Pakeun Dora.

Leumpang aing nyangwetankeun,

Meuntas di Ci-Pakanycilan.

Saucunduk ka Pakeun Teluk,

Sadatng ka Pakanycilan,

Mukakeun panto koeari.

Dingaranan si Jompong Larang.

Myoreang ka lamin adding.

Careknya si Jompong Larang:

“duh, ameng ti mana eta?

Ameng, ta datang ti wetan,

Sakaen poleng puranteng,

Sasalimbut sulam Baluk,

Sasampay sutra Cina,

Sapeucut hoe malatung,

Digempeng-gempeng ku omas,

Jojompongna made tonggong.

Teher lungguh di palangka,

Sila tumpang deung sideuha,

Ngagigirkeun karas tulis.

Teher nyeupah lumageday.

Dingaran si Jompong Larang,

Na bogoh hamo kapalang,

Diilikan dibudian,

Dideuleu diteuteuh-teuteuh,

Ti manggung dikahandapkeun,

Bogogh kanu pangawakan:

Giling bistis pincuh geulang,

Toreros na tuang ramo,

Pangranyjang na tuang tanggay,

Bentik halis sikar dahi,

Surup huntu bentik tungtung,

Sumaray dadu ku seupah.

Dingaranan si Jompong larang,

Gupuh sigug gampang kaeur,

Leumpang bitan gajar Jawa.

Sadatang ka kadatuan,

Tohaan kasondong ngeuyeuk,

Eukeur ngeuyeuk eukeur meubeur,

Eukeur nyulage mihane,

Neuleum nuar nyangkuduan,

Ngarancet kanteh pamulu.

Tohaan na Ajung Larang,

Sakean Kilat Banycana,

Ngaleke ebtreh na cangkeng,

Cugenang tuang minareup,

Teherna lungguh di kasur,

Ngagigirkeun ebun Cina,”

Ebun Cina diparada,

Pamuat ti alas peuntas.

Tohaan na Ajung Larang,

Nyoreang ti jokjok panon,

Ngadeuleu salinger beuheung,

Katuluyan deuleu teuteuh.

“itu ta enggeun si Jompong!

Na naha eta bejana?

Mana geura-geura teuing?”

dingaranan si Jompong Larang,

cat-cat gek deuuk di lemah.

Saur taan Ajung Larang;

Umum sadekung ka manggung,

Beres ngaburang ka ramo.

Carekna si Jompong Larang;

“Taan urang Ajung Larang,

Sakean Kilat Banycana,

Rampes teuing jeueung aing,

Lantara teuing ku kasep!

Inya kasep inya pelag:

Keur meujeuh pasieup deung

Taan urang Ajung Larang!”

Saur taan Ajung Larang:

Jompong saha ngaranna?”

Sanembal si Jompong Larang:

“Samapun, ngaranna Ameng Layaran.

Lantaran teuing ku kasep:

Kasep manna Banyak Catra,

Leuwih manna Silih Wangi,

Liwat ti tuang ponakan.

Ageung sengserang panon.

Keur meujeuh pauc-pauceun di anyjung,

Timang-timangeun di ranyjang,

Tepok-tepokeun di kobong,

Edek-edekeun di rengkeng.

Teher bisa carek Jawa,

Wruh dina eusi tangtu,

Lapat di tata pustaka,

Wruh di darma pitutur,

Bisa di sanghiang darma”

Saangeus kapupulihan,

Taan urang Ajung Larang,

Sakean Kilat Banycana

Tuluy minger tuang hidep

Na rasa kalejon bogoh,

Na rasa karejay haying.

Naheuyeuk tuluy ditinda,

Diparac apus dadampar,

Loglog caor tina tonggong,

Diri hapit tina pingping,

Kedalan diri ti dampal.

Neut nanyjeur ngajuga hangsa.

Saasup sia ka bumi,

Nyingkabkeun na narawis kasang.

Kumarejeng-kumarencong,

Ninggang ka na papan janten

Bogoh kanu ngaran kasang,

Kasang tujuh kali nyingkab,

Kasang seni tambi lungsir,

Kasang pahang tambi laka,

Bedong ditambih bayambon,

Baling ditambi kacambang.

Saunggah ka manggung ranyjang,

Gapay ka karas larangan,

Dicokot na pasileman pasibonteng,

Digapay seureuh haseunan.

Tohaan tuluy nu nektek

Nu nektek meunang salawe,

Nu muuc meunang sapuluh,

Ngagatul meunang dalapan,

Ditalian rambu tapih,

Ditelengan leteng karang,

Leteng karang ti Karawang,

Leteng susuh ti Malayu,

Pamuat aki pahuwang,

Dipinangan pinang tiwi,

Pinang tiwi ngubu cai,

Pinang adding sari kuning,

Keur meujeuhna patemu angen,.

Dipasi ka kalatatri,

Pasi leupas jadi dua,

Pasi gantung jadi teulu,

Pasi remek jadi genep,

Dihancang di pasileman,

Rampes na beunang ngahanceng

Dituruban saratangan,

Anten leuwih ti sakitu:

Di dulur ku pupur kapur,

Candana ruum sacupu,

Bunga resa dina juha,

Dedes deungeun majakane,

Jaksi deungeun kamisadi,

Jaksi pandan deung kamenyan,

Dua buah cangci lenga,

Di teuyeuh kua aer mawar,

Narawastu agur-agur,

Bubura peuntas sagala,

Aya liwat ti sakitu:

Digapay na ebal ageng

Di cokot na boeh timur,

Dicokot na sabuk wayang,

Kiris malela sapucuk,

Awja ya sareana

Pahi deungeun buah rembey

Saur taan Ajung Larang:

“Jompong, sia pulang deui!

Ini bawa pangiriming,

Bawa ma katuang ambu,

Ci kua rang na picarekeun:

“Seupaheun pananta tineung

tin a taan Ajung Larang

sakean Kilat Banycana.

Lamun puguh katanggapan,

Tohaan majar kaluar,

Majar nu datang ku manten.”

Dingaran si Jompong Larang,




Disadur dari : Wahyu Wibisana,

Lima Abad Sastra Sunda - Sebuah Antologi, Jilid 1, Geger Sunten 2000
Lanjut membaca “Saduran *Kitab Bujangga Manik*”  »»

Senin, 29 Juni 2009

Catatan Masa Lampau




Isi Prasasti Astana Gede (Kawali, Ciamis)


nihan tapa kawali nu sang hyang mulia
tapa bhagya parebu raja wastu
mangadeg di kuta kawali nu mahayuna kadatuan
sura wisesa nu marigisakuliling dayeh.
Nu najur sakala desa aja manu panderi pakena
gawe ring hayu paken hebel jaya dina buana

hayua diponah-ponah
hayua dicawuh-cawuh
inya neker inya angger
inya ninycak inya rempag

Isi Prasasti Batutulis (Bogor)

Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,
diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana
di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu hajj di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan
diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang
ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyanl sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi

(blog Ki Balantrang)

Lanjut membaca “Catatan Masa Lampau”  »»